Kronologi Perang dunia II

Sesuai anggapan umum, perang ini dimulai pada tanggal 1 September 1939, dimulai dengan invasi Jerman ke Polandia; Inggris dan Prancis menyatakan perang terhadap Jerman dua hari kemudian. Tanggal lain yang dianggap sebagai tanggal mulainya perang adalah tanggal 7 Juli 1937 yang merupakan mulainya Perang Cina-Jepang Kedua.

Yang lain mengikuti sejarawan Inggris A. J. P. Taylor, yang menyatakan bahwa ada Perang Cina-Jepang di Asia Timur, dan Perang Eropa Kedua di Eropa dan koloni-koloninya yang terjadi hampir serentak. Kedua perang ini menjadi satu pada tahun 1941, menjadi konflik global tunggal, yang pada titik ini membuat perang berlanjut sampai tahun 1945. Artikel ini menggunakan tanggal konvensional. Tanggal yang digunakan juga untuk menandakan awal Perang Dunia II selain yang tersebut di atas adalah pada saat Italia menginvasi Abyssinia pada tahun 1935.

Tanggal berakhirnya perang belum ditetapkan secara universal. Umumnya orang lebih menerima bahwa perang berakhir pada saat gencatan senjata tanggal 14 August 1945 pada saat Hari Kemenangan di Jepang (V-J Day), daripada saat Jepang menyerah secara resmi pada tanggal 2 September 1945; dalam beberapa buku sejarah Eropa, Perang Dunia II berakhir pada Hari Kemenangan di Eropa (V-E Day) pada tanggal 8 Mei 1945). Bagaimanapun, Traktat Perdamaian dengan Jepang belum ditandatangani hingga tahun 1951, dan yang dengan Jerman juga belum ditandatangani hingga tahun 1990.

Latar Belakang

Perang Dunia I merubah peta politik secara radikal dengan kalahnya Kekuatan Tengah (Central Powers) yang beranggotakan Austria-Hungaria, Jerman dan Kekaisaran Ottoman; dan pada tahun 1917 kaum Bolshevik mengambil alih kekuasaan di Rusia. Sementara itu, negara-negara Sekutu pemenang perang seperti Prancis, Belgia, Italia, Yunani dan Rumania memperluas wilyah kekuasaan mereka, sementara negara-negara baru bermunculan akibat runtuhnya negara Austria-Hungaria dan kekaisaran Rusia dan Ottoman. Pada kesudahan perang, paham nasionalisme irredentist (mendukung perluasan wilayah negara sendiri dengan cara merebut wilayah negara lain dengan alasan-alasan seperti persamaan budaya, sejarah, ras, kesukuan, dan lain-lain); dan revanchist (mendukung balas dendam karena kalah perang) menjadi paham yang berpengaruh di beberapa negara Eropa. Kedua paham ini berpengaruh sangat kuat di Jerman karena kerugian wilayah, koloni, dan keuangan yang signifikan yang mereka alami akibat Traktat Versailles. Di bawah tekanan traktat tersebut, Jerman kehilangan sekitar 13 persen wilyah negara mereka dan kehilangan semua koloni mereka, sementara Jerman dilarang menganeksasi negara lain, perbaikan dihambat, dan kekuatan angkatan bersenjata Jerman dibatasi dalam hal ukuran dan kemampuannya. Sementara itu, Perang Saudara Rusia telah mengawali terciptanya Uni Soviet.

Kekaisaran Jerman dilebur ke dalam pemerintahan demokratis yang terbentuk setelah Revolusi Jerman pada tahun 1918 – 1919 yang kemudian dikenal sebagai Republik Weimar. Periode antarperang menjadi saksi pertikaian antara para pendukung republik yang baru terbentuk tersebut dan kaum garis keras di sayap kiri maupun kanan. Walaupun Italia sebagai sekutu berdasarkan perjanjian mendapat perluasan wilayah, kaum nasionalis Italia marah karena Inggris dan Prancis tidak menepati janji mereka untuk mengamankan keterlibatan Italia dalam perang dalam perjanjian damai di Versailles. Pada tahun 1922 sampai 1925, gerakan Fasis yang dipimpin oleh Benito Mussolini menguasai Italia dengan agenda nasionalis, totaliter dan kolaborasionaris kelas sosial yang menghapuskan demokrasi representatif, menekan kekuatan sosialis, sayap kiri dan liberal, dan melakukan kebijakan luar negeri yang agresif yang membentuk Italia sebagai salah satu kekuatan adikuasa – “Kekaisaran Romawi Baru.” Di Jerman, Partai Nazi pimpinan Adolf Hitler juga membentuk pemerintahan fasis yang seperti itu di Jerman. Dengan terjadinya Depresi Besar, dukungan dalam negeri untuk kaum Nazi meningkat dan pada tahun 1933, Hitler diangkat menjadi Kanselir Jerman. Setelah kejadian kebakaran di Reichstag, Hitler menciptakan negara totaliter partai tunggal yang dipimpin oleh kaum Nazi.

Partai Kuomintang (KMT) di Cina melancarkan kampanye penyatuan melawan para panglima perang lokal dan mempersatukan Cina pada pertengahan tahun 1920, tapi segera terlibat lagi dalam perang saudara melawan Cina Komunis yang merupakan mantan sekutunya. Pada tahun 1931, Kekaisaran Jepang yang secara pesat menjadi militeristik, yang sudah lama mencoba mempengaruhi Cina sebagai langkah awal untuk mengklaim haknya untuk menguasai Asia, menggunakan Insiden Mukden sebagai pembuka invasi ke Manchuria dan mendirikan negara boneka Manchukuo. Karena terlalu lemah untuk melawan Jepang, Cina meminta bantuan kepada Liga Bangsa-Bangsa. Jepang mengundurkan diri sebagai anggota Liga Bangsa-Bangsa setelah dihujat karena invasinya ke Manchuria. Kedua bangsa ini kemudian berhadapan dalam beberapa pertempuran di Shanghai, Rehe dan Hebei, sampai penandatanganan Gencatan Senjata Tanggu pada tahun 1933. Setelahnya, pasukan sukarelawan Cina melanjutkan perlawanan terhadap agresi Jepang ke Manchuria, dan Chahar dan Suiyuan.

Benito Mussolini (kiri) dan Adolf Hitler (kanan)

Adolf Hitler, setelah gagal mengkudeta pemerintah Jerman pada tahun 1923, menjadi Kanselir Jerman pada tahun 1933. Dia menghapuskan demokrasi dan mendukung revisi orde dunia yang radikal dan bermotif rasial, dan kemudian segera memulai kampanye masif dalam memperkuat persenjataan militer Jerman. Sementara itu, Prancis untuk mengamankan posisi persekutuannya membolehkan Italia untuk bertindak bebas di Ethiopia, yang memang ingin dikolonisasi oleh Italia. Situasi memburuk pada awal tahun 1935 ketika Wilayah Saar Basin bergabung kembali dengan Jerman secara legal dan Hitler secara terang-terangan tidak mengakui isi Traktat Versailles, mempercepat program perkuatan senjata dan membuka pendaftaran untuk anggota militer baru.

Berharap dapat menahan pergerakan Jerman, Inggris, Prancis dan italia membentuk front Stresa. Uni Soviet yang juga khawatir akan tujuan Jerman untuk memperluas wilayah ke Eropa Timur menandatangani traktat persekutuan dengan Prancis. Sebelum traktat tersebut dinyatakan berlaku, pakta antara Prancis dan Soviet itu harus melalui birokrasi Liga Bangsa-Bangsa yang membuat traktat itu menjadi tidak berguna. Bagaimanapun, pada bulan Juni 1935, Inggris membuat persetujuan kelautan independen dengan Jerman untuk melonggarkan batasan-batasan yang tercantum di traktat Versailles. Amerika Serikat yang khawatir dengan apa yang sedang terjadi di Eropa dan Asia mengeluarkan Undang-Undang Kenetralan pada bulan Agustus. Pada bulan Oktober, Italy menginvasi Ethiopia, dengan Jerman sebagai satu-satunya negara besar di Eropa yang mendukung invasi itu. Kemudian Italia menarik kembali keberatannya terhadap tujuan Jerman untuk menyerap Austria ke dalam wilayah Jerman.

Hitler menentang traktat Versailles dan Locarno dengan memiliterisasi kembali Rhineland pada bulan Maret 1936. Dia tidak mendapatkan banyak tanggapan atas tindakannya itu. Ketika Perang Saudara Spanyol pecah pada bulan Juli, Hitler dan Mussolini mendukung pasukan Nasionalis yang fasis dan otoriter melawan Republik Spanyol yang didukung Soviet. Kedua pihak menggunakan konflik tersebut sebagai ajang pengujian senjata dan metode perang baru, dengan kaum Nasionalis akhirnya memenangkan perang tersebut pada awal tahun 1939. Pada bulan Oktober 1936, Jerman dan Italia membentuk Poros Roma-Berlin. Sebulan kemudian, Jerman dan Jepang menandatangani Pakta Anti-Komintern yang mana Italia akan bergabung di dalamnya setahun kemudian. Di Cina, setelah Insiden Xi’an pasukan Kuomintang dan komunis setuju untuk melakukan gencatan senjata untuk membentuk front bersatu untuk melawan Jepang.

Kejadian-kejadian pra-perang

Invasi ke Ethiopia

Perang Kedua Italia-Abyssinia adalah perang kolonial singkat antara angkatan bersenjata Kerajaan Italia (Regno d’Italia) dengan angkatan bersenjata Kekaisaran Ethiopia (Abyssinia) yang dimulai pada bulan Oktober October 1935 dan berakhir pada bulan Mei 1936. Perang tersebut berakhir dengan pendudukan militer Italia di Ethiopia dan aneksasinya ke koloni Afrika Timur Italia (Africa Orientale Italiana, atau AOI) yang baru saja dibentuk; sebagai tambahan, koloni tersebut mengungkap kelemahan Liga Bangsa-Bangsa (LBB) sebagai badan pelestari kedamaian. Italia dan Ethiopia adalah anggota LBB, tapi Liga tersebut tidak melakukan apa-apa ketika Ethiopia jelas-jelas melanggar Artikel X LBB.

Perang Saudara Spanyol

Reruntuhan Guernica setelah pengeboman.

Jerman dan Italia mendukung pemberontakan bersenjata kaum Nasionalis yang dipimpin jenderal Francisco Franco di Spanyol. Uni Soviet mendukung pemerintahan yang sedang berjalan, Republik Spanyol, yang menunjukkan kecenderungan sayap kiri. Jerman dan Rusia menggunakan perang proksi (perang dimana kedua pihak yang bertikai masing-masing diwakili oleh negara lain dalam melakukannya) ini sebagai kesempatan untuk mengujicoba senjata dan taktik yang sudah diperbaiki. Pengeboman Guernica yang sengaja dilakukan oleh Legiun Kondor Jerman pada bulan April 1937 turut andil dalam menyebarkan keprihatinanan tentang perang besar berikutnya akan terjadi serangan teror bom terhadap warga sipil.

Invasi Jepang ke Cina

Sarang senapan mesin pasukan Cina di Pertempuran Shanghai, 1937.

Pada bulan Juli 1937, Jepang merebut Beijing yang merupakan ibukota kekaisaran Cina setelah menyulut Insiden jembatan Marco Polo, yang berpuncak dengan kempanye Jepang untuk menginvasi seluruh daratan Cina. Soviet segra menandatangani pakta non-agresi dengan Cina untuk memberikan bantuan material yang secara efektif mengakhiri kerjasama yang serupa dengan Jerman. Generalissimo Chiang Kai-shek mengerahkan pasukan terbaiknya untuk mempertahankan Shanghai, tapi setelah bertempur selama tiga bulan, Shanghai jatuh. Pasukan Jepang terus mendesak mundur pasukan Cina, merebut ibukota Nanjing pada bulan Desember 1937 dan melakukan Pembantaian Nanking.

Pada bulan Juni 1938, pasukan Cina menahan gerak maju Jepang dengan membanjiri Sungai Kuning; walaupun manuver ini memberikan waktu bagi pasukan Cina untuk mempersiapkan garis pertahanan di Wuhan, kota tersebut berhasil direbut pada bulan Oktober. Kemenangan-kemenangan militer Jepang, bagaimanapun, tidak berhasil meruntuhkan perlawanan rakyat Cina seperti yang mereka harapkan, malahan pemerintahan Cina pindah ke Chongqing untuk melanjutkan perlawanan mereka.

Invasi Jepang ke Uni soviet dan Mongolia

Pasukan Rusia bertempur melawan Jepang dalam Pertempuran Khalkhin Gol di Mongolia, 1939.

Pada tanggal 29 Juli 1938, Jepang menginvasi Uni Soviet dan dipukul mundur pada Pertempuran Danau Khasan. Walaupun pertempuran ini dimenangkan oleh pihak Soviet, Jepang tidak mengakuinya dan menganggap pertempuran tersebut berakhir seri, dan pada tanggal 11 Mei 1939 Jepang memutuskan untuk memindahkan garis perbatasan Jepang-Mongolia ke Sungai Khalkhin Gol secara paksa. Setelah berhasil pada awalnya, serbuan Jepang ke Mongolia ditahan oleh Tentara Merah yang menjadikannya kekalahan besar pertama bagi Tentara Kwantung Jepang. Bentrokan-bentrokan ini meyakinkan beberapa faksi di pemerintahan Jepang bahwa mereka sebaiknya memusatkan perhatian untuk berdamai dengan pemerintah Soviet untuk menghindari turut campur  dalam perang melawan Cina dan mengalihkan perhatian militer mereka ke selatan, ke AS dan daerah-daerah kekuasaan bangsa Eropa di Pasifik, dan juga mencegah pemecatan pemimpin-pemimpin militer Soviet yang berpengalaman seperti Georgy Zhukov, yang nantinya akan memainkan peran penting dalam pertahanan Moskow.

Pendudukan-pendudukan di Eropa dan persetujuan-persetujuannya

Dari kiri ke kanan (depan): Chamberlain, Daladier, Hitler, Mussolini, dan Ciano berfoto sebelum menandayangani Persetujuan Munich.

Di Eropa, Jerman dan Italia menjadi semakin lancang. Pada bulan March 1938, Jerman menganeksasi Austria, yang lagi-lagi tidak mendapatkan reaksi dari negara-negara Eropa lainnya. Merasa tidak mendapat tentangan, Hitler mulai memaksakan klaim Jerman terhadap Sudetenland, dan wilayah Cekoslowakia yang mayoritas penghuninya adalah etnis Jerman; dan kemudian Prancis dan Inggris menyerahkan wilayah tersebut kepada Hitler tanpa menghiraukan permohonan dari pemerintah Cekoslowakia, dengan imbalan Hitler tidak akan meminta perluasan wilayah lagi. Segera setalah itu, bagaimanapun, Jerman dan Italia memaksa Cekoslowakia untuk menyerahkan sebagian lagi dari wilayahnya kepada Hungaria dan Polandia. Pada bulan Maret 1939, Jerman menginvasi Cekoslowakia dan membaginya menjadi Negara Proktektorat Jerman Bohemia dan Moravia, dan negara klien pro-Jerman: Republik Slovak.

Waspada karena Hitler juga meminta daerah Danzig, Prancis dan Inggris menjamin dukunagn mereka terhadap kemerdekaan Polandia; ketika Italia menaklukkan Albania pada bulan April 1939, jaminan yang sama juga diberikan kepada Rumania dan Yunani. Tak lama setelah janji Prancis dan inggris kepada Polandia, Jerman dan Italia meresmikan persekutuan mereka yang dikenal dengan Pakta Baja.

Pada bulan Agustus 1939, Jerman dan Uni Soviet menandatangani Pakta Molotov–Ribbentrop, traktat non-agresi dengan protokol rahasia. Masing-masing pihak mendapatkan hak, “dalam rangka penataan kembali wilayah dan politik,” sampai “lingkup pengaruh” (Polandia Barat dan Lithuania untuk Jerman, dan Polandia Timur, Finlandia, Estonia, Latvia dan Bessarabia untuk Uni Soviet). Hal ini juga menjadi ancaman bagi kemerdekan Polandia.

Alur Perang

Perah pecah di eropa

Parade bersama Angkatan Darat Jerman dan Tentara Merah Soviet pada tanggal 23 September 1939 di Brest, Polandia Timur pada akhir invasi ke Polandia. Di tengah adalah Mayjen Heinz Guderian dan si sebelah kanan adalah Brigjen Semyon Krivoshein.

Pada tanggal 1 September 1939, Jerman dan – negara kliennya pada  tahun 1939 – Slowakia menyerang Polandia. Pada tanggal 3 September 1939 Prancis dan Inggris, diikuti oleh negara-negara Persemakmuran, menyatakan perang terhadap Jerman tetapi hanya memberikan sedikit dukungan kepada Polandia seperti serangan kecil-kecilan Prancis ke Saarland. Inggris dan Prancis juga memulai blokade laut terhadap Jerman pada tanggal 3 September yang bertujuan untuk merusak ekonomi dan upaya perang. Pada tanggal 17 September 1939, setelah menandatangani gencatan senja dengan Jepang, Uni Soviet juga menginvasi Polandia. Wilayah Polandia dikuasai olah Jerman dan Uni soviet, dan sebagian kecil dari wilayah tersebut diberikan kepada Lithuania dan Slowakia. Rakyat Polandia menolak untuk menyerah dan membentuk Negara Bawah-tanah Polandia, Tentara Nasional, dan terus berjuang bersama Sekutu di seluruh front di luar Polandia. Pada operasi Jembatan Rumania, sekitar 120.000 tentara Polandia diungsikan ke Prancis bersama dengan sebagian besar angkatan Udara dan pemecah kode Enigmanya. Pada saat yang bersamaan, Jepang melancarkan serangan pertamanya ke Changsha, kota Cina yang penting secara strategis, tapi berhasil dipukul mundur pada akhir September.

Menyusul invasi ke dan traktat antara Jerman dan Soviet untuk menguasai Lithuania, Uni Soviet memaksa negara-negara Baltik untuk memperbolehkannya menempatkan tentara di negara-negara tersebut dengan pakta “saling membantu” Finlandia menolak permintaan wilayah dari Uni Soviet dan di-invasi pada bulan November 1939. Konflik tersebut berakhir pada bulan Maret 1940 konsesi dari pihak Finlandia. Prancis dan Inggris, menganggap serangan Soviet terhadap Finlandia sama buruknya dengan memasuki kancah perang dengan berpihak kepada Jerman, mendukung diusirnya Uni Soviet dari Liga Bangsa-Bangsa.

Pasukan Jerman di Arc de Triomphe, Paris, setelah jatuhnya Prancis pada tahun 1940.

Di Eropa Barat, pasukan Inggris dikirim ke Eropa Daratan, tapi dalam fase yang dikenal sebagai ‘Perang Palsu (Phoney War)’ oleh orang Inggris dan “Sitzkrieg” (perang duduk) oleh orang Jerman, dimana tidak ada pihak yang melancarkan operasi besar melawan musuhnya sampai bulan April 1940. Uni Soviet dan Jerman membuat pakta dagang pada bulan Februari 1940, yang kemudian disusul dengan Soviet menerima peralatan militer dan industri dari Jerman yang ditukar dengan bahan-bahan mentah untuk Jerman untuk membantu menghindari blokade Inggris.

Pada bulan April 1940, Jerman menginvasi Denmark dan Norwegia untuk mengamankan pengiriman bijih besi dari Swedia, yang akan dihambat oleh Sekutu. Denmark segera menyerah, dan walaupun didukung oleh Sekutu, Norwegia ditaklukkan dalam waktu dua bulan. Pada bulan Mei 1940 Inggris menginvasi Islandia. Ketidaksenangan Inggris terhadap hasil kampanye Norwegia berujung pada digantinya Perdana Menteri Neville Chamberlain dengan Winston Churchill pada tanggal 10 Mei 1940.

Kemajuan Pihak Poros

Jerman menginvasi Prancis, Belgia, Belanda dan Luksemburg pada tanggal 10 Mei 1940, di hari yang sama dengan saat Neville Chamberlain mengundurkan diri sebagai Perdana Menteri Inggris. Belanda ditaklukkan hanya dalam beberapa hari dan Belgia dalam beberapa minggu dengan menggunakan taktik blitzkrieg. Lini Maginot yang diperkuat oleh pihak Prancis dihindari dengan pergerakan memutar menembus daerah Ardennes yang berhutan lebat, yang dianggap pihak Prancis sebagai penghalang alami yang tak dapat ditembus oleh kendaraan lapis baja. Pasukan Inggris dipaksa untuk mundur meninggalkan Eropa Daratan di Dunkirk, meninggalkan peralatan berat mereka di sana pada akhir bulan. Pada tanggal 10 Juni, Italia menginvasi Prancis, menyatakan perang terhadap Prancis dan Inggris; duabelas hari kemudian Prancis menyerah dan segera dibagi menjadi dua wilayah, yaitu wilayah pendudukan Jerman dan wilayah pendudukan Italia, dan daerah bebas yang tidak diduduki yang dikuasai oleh Rezim Vichy. Pada tanggal 3 Juli, Inggris menyerah armada Prancis di Aljazair untuk mencegahnya jatuh ke tangan Jerman.

Pada bulan Juni, di hari-hari terakhir Pertempuran Prancis (Battle of France), Uni Soviet mengadakan pemilu di negara-negara Baltik dan secara paksa dan ilegal menganeksasi mereka; dan kemudian menganeksasi wilayah Bessarabia di Rumania. Ketika kerjasama antara Uni Soviet dan Jerman Nazi semakin meningkat, yang termasuk di dalamnya kerjasama ekonomi dalam cakupan luas, bantuan militer terbatas, pertukaran populasi dan persetujuan garis batas membnuat Uni Soviet secara de facto menjadi sekutu Jerman, Pengambilalihan Soviet terhadap negara-negara Baltik, Bessarabia dan Bukovina Utara telah diprotes oleh Jerman. Hal ini, seperti juga ketegangan yang makin kuat di lingkup pengaruh menuinjukkan kemustahilan untuk memperluas kerjasama Nazi-Soviet, dan kedua negara tersebut mulai bersiap untuk berperang.

Dengan dinetralkannya Prancis, Jerman memulai kampanye supremasi udara mereka di angkasa Inggris (Pertempuran Britania atau Battle of Britain) sebagai persiapan untuk invasi. Kampanye tersebut gagal, dan rencana invasi dibatalkan pada bulan September. Menggunakan pelabuhan-pelabuhan milik Prancis yang baru saja mereka rebut, AL Jerman menikmati kemenangan melawan AL Inggris, menggunakan kapal selam melawan perkapalan Inggris di Samudera Atlantik. Italia memulai operasi di laut Mediterania, memulai pengepungan terhadap Malta pada bulan Juni, menaklukkan Somalia pada yang waktu itu dikuasai Inggris pada bulan Agustus, dan mencoba menyerang Mesir yang dipertahankan oleh Inggris pada bulan September 1940. Jepang mengetatkan blokadenya terhadap Cina pada bulan September dengan menguasai beberapa pangkalan di bagian utara Indocina Prancis yang telah terisolasi.

Pertempuran Britania (Battle of Britain) mengakhiri gerak maju Jerman di Eropa Barat.

Di sepanjang periode ini, Amerika Serikat yang netral mengambil langkah untuk membantu Cina dan Sekutu Barat. Pada bulan November 1939, Undang-Undang Kenetralan Amerika dirombak untuk memperbolehkan system pembelian ‘cash and carry’ oleh pihak Sekutu. Pada tahun1940, menyusul direbutnya kota Paris oleh Jerman, Ukuran AL Amerika Serikat diperbesar secara signifikan dan setelah invasi Jepang ke Indocina, Amerika Serikat mengembargo besi, baja dan suku cadang mekanis terhadap Jepang. Pada bulan September September, Amerika Serikat menyetujui pertukaran kapal perusak buatan Amerika dengan pangkalan di Inggris. Walaupun begitu, mayoritas rakyat Amerika terus menentang intervensi militer langsung sampai tahun 1941.

Pada akhir September 1940, Pakta Tripartit menyatukan Jepang, Italia dan Jerman dan mersmikan bangkitnya Kekuatan poros. Pakta Tripartit menyatakan bahwa negara manapun, kecuali Uni Soviet, yang tidak berperang tapi menyerang salah satu Negara anggota Kekuatan Poros akan dipaksa berperang melawan seluruh anggotanya. Pada saat itu, Amerika Serikat terus mendukung Inggris dan Cina dengan memperkenalkan kebijakan kredit (Lend-Lease) yang mendukung penyediaan material dan benda-benda lainnya dan menciptakan zona keamanan yang membentang kira-kira separo dari Samudera Atlantik dimana AL Amerika Serikat melindungi konvoi Inggris. Alhasil, Jerman dan Amerika Serikat jadi terlibat dalam perang laut berkepanjangan di Atlantik Tengah dan Utara sampai pada bulan Oktober 1941, walaupun secara resmi Amerika Serikat tetap netral.

Anggota Poros bertambah dengan bergabungnya Hungaria, Slowakia dan Rumania ke dalam Pakta Tripartit pada bulan November 1940. Negara-negara ini berpartisipasi dalam invasi ke Uni Soviet, dengan Rumania memberikan andil besar dalam perebutan kembali daerah yang diserahkan kepada Uni Soviet dalam rangka memenuhi hasrat pemimpin Rumania, Ion Antonescu, untuk memerangi komunisme. Pada bulan Oktober 1940, Italia menginvasi Yunani tapi berhasil dipukul mundur sampai ke Albania dalam hitungan hari dan segera disusul dengan kebuntuan. Pada bulan Desember 1940, Pasukan Persemakmuran Inggris memulai serangan balasan melawan pasukan Italia di Mesir dan Afrika Timur. Pada awal tahun 1941, dengan terpukul mundurnya pasukan Italia sampai ke Libya oleh pasukan Persemakmuran, Churchill memerintahkan pengiriman pasukan dari Afrika untuk membantu Yunani. Angkatan Laut Italia juga mengalami kekalahan yang signifikan disebabkan oleh karamnya tiga kapal tempur Italia oleh serangan dengan manggunakan kapal induk di Taranto, dan menetralisir beberapa kapal perang di Tanjung Matapan.

Pasukan payung Jerman menginvasi pulau Kreta di Yunani, Mei 1941.

Jerman segera turun tangan untuk membantu Italia. Hitler mengirim pasukan Jerman ke Libya pada bulan Februari, dan pada akhir bulan Maret mereka telah melancarkan ofensif terhadap pasukan Persemakmuran yang sudah berkurang kekuatannya. Dalam waktu kurang dari sebulan, pasukan Persemakmuran dipukul mundur sampai Mesir kecuali mereka yang terkepung di pelabuhan Tobruk. Pasukan Persemakmuran mencoba menggoyahkan pasukan Poros pada bulan Mei dan Juni, dan gagal. Pada awal bulan April, setelah Bulgaria bergabung ke dalam Pakta Tripartit, Jerman turun tangan di front Balkan dengan menginvasi Yunani dan Yugoslavia setelah terjadi kudeta di sana; di front ini pun mereka mengalami kemajuan yang pesat, yang membuat Sekutu mundur dari Yunani setelah Jerman menaklukkan Pulau Kreta pada akhir bulan Mei.

Sekutu tetap mengalami keberhasilan pada masa ini. Di Timur Tengah, pasukan Persemakmuran menghentikan kudeta di Irak yang didukung oleh pesawat Jerman yang berasal dari pangkalan-pangkalan yang dikuasai Vichy di Suriah sebagai permulaan dan kemudian dengan bantuan Gerakan Pembebasan Prancis, menginvasi Suriah dan Lebanon untuk mencegah terjadinya lagi hal tersebut. Di Samudera Atlantik, Inggris berhasil menaikan semangat rakyatnya dengan menenggelamkan kapal bendera Jerman, Bismarck. Mungkin yang paling penting adalah, selama Battle of Britain Angkatan Udara Kerajaan Inggris (Royal Air Force) telah berhasil menahan serangan dari, dan kampanye pemboman Jerman berakhir pada bulan Mei 1941.

Di Asia, walaupun masing-masing pihak mengadakan ofensif, perang antara Cina dan Jepang mengalami kebuntuan pada tahun 1940. Dalam rangka meningkatkan tekanan terhadap Cina dengan memblok rute-rute pasokan,dan untuk memposisikan pasukan Jepang dengan lebih baik bila terjadi perang dengan Barat, Jepang telah mengambilalih kendali militer di selatan Indocinapada bulan Agustus tahun itu, pasukan komunis Cina melancarkan ofensif ke Cina Tengah; sebagai balasannya, Jepang melakukan hal-hal yang keras (Kebijakan Tiga Semua) di daerah-daerah yang mereka duduki untuk mengurangi pasokan SDM maupun material bagi pihak komunis. Antipati yang berkelanjutan antara pasukan komunis dan nasionalis Cina berpuncak pada bentrokan bersenjata pada bulan Januari 1941, secara efektif mengakhiri kerjasama mereka. Dengan situasi di Eropa dan Asia relatif stabil, Jerman, Jepang, dan Uni Soviet bersiap-siap. Dengan pihak Soviet yang risau akan ketegangan hubung mereka dengan Jerman yang makin memuncak dan Jepang berencana untuk mengambil keuntungan dari Perang Eropa dengan mengambilalih properti-properti bangsa Eropa yang kaya akan sumber daya di Asia Tenggara, kedua negara tersebut menandatangani Pakta Kenetralan Soviet-Jepang pada bulan April 1941. Dan sebaliknya, Jerman bersiap untuk menyerang Uni Soviet dengan mengumpulkan pasukannya di perbatasan Soviet.

Perang menyebar ke penjuru dunia

Infantri dan kendaraan lapis baja Jerman memerangi pasukan Soviet yang bertahan di jalanan kota Kharkov, Oktober 1941.

Pada tanggal 22 Juni 1941, Jerman, bersama dengan anggota Poros lainnya dan Finlandia, menginvasi Uni Soviet dalam Operasi Barbarossa. Sasaran utama dalam ofensif mendadak ini adalah wilayah Baltik, Moskow dan Ukraina, dengan tujuan akhirnya mencapai lini Arkhangelsk-Astrakhan yang menghubungkan Laut Kaspia dengan Laut Putih pada akhir tahun 1941. Tujuan Hitler adalah untuk menghabisi kekuatan militer Uni Soviet, membasmi komunisme dan membuat Lebensraum (“Ruang Hidup”) dengan mengusir penduduk asli dari daerah yang direbut Jerman dan menjamin akses ke sumber daya strategis yang dibutuhkan untuk mengalahkan lawan-lawan Jerman yang tersisa.

Walaupun Tentara Merah bersiap untuk serangan balasan strategis sebelum perang pecah, Operasi Barbarossa memaksa komando tertinggi Soviet untuk melakukan pertahanan strategis. Selama musim panas, pasukan Poros mengalami kemajuan yang signifikan, menyebabkan kerugian besar bagi Uni Soviet dalam hal personel dan materi. Pada pertengahan bulan Agustus, bagaimanapun, Komando Tertinggi Angkatan Darat Jerman (OKW, Oberkommando der Wehrmacht) memutuskan untuk menunda gerakan maju Grup Angkatan Darat Tengah yang mulai melemah kekuatannya, dan mengalihkan Grup Lapis Baja Kedua untuk memperkuat pasukan yang maju ke arah Ukraina Tengah dan Leningrad. Ofensif ke Kiev berlangsung dengan sangat sukses dengan hasil terkepung dan musnahnya empat angkatan darat Soviet, dan memungkinkan Jerman untuk maju lebih jauh ke Crimea dan Ukraina Timur yang industrinya maju (Pertempuran Kharkov Pertama).

Serangan balik Soviet pada pertempuran Moskow, Desember, 1941.

Pengalihan tigaperempat pasukan Poros dan sebagian besar kekuatan udara mereka dari Prancis dan Mediterania Tengah ke Front Timur memberi isyarat bagi Inggris untuk mempertimbangkan kembali strategi agungnya. Pada bulan Juli, Inggris dan Uni Soviet membentuk persekutuan militer melawan Jerman. Inggris dan Soviet menginvasi Iran untuk mengamankan Koridor Persia dan ladang-ladang minyak Iran. Pada bulan Agustus, Inggris dan Amerika Serikat bersama-sama menerbitkan Piagam Atlantik.

Pada bulan Oktober, ketika tujuan operasional pihak Poros di Ukraina dan wilayah Baltik telah tercapai, hanya dengan pengepungan Leningrad dan Sevastopol yang masih berlangsung, ofensif besar terhadap Moskow telah diperbarui. Setelah dua bulan pertempuran berat, pasukan Jerman sudah hampir mencapai pinggiran terluar kota Moskow, dimana pasukan yang sudah kelelahan tersebut dipaksa untuk menunda ofensif mereka. Pasukan Poros telah berhasil menguasai sebagian besar wilayah Uni Soviet, tapi kampanye mereka gagal mencapai tujuan utamanya: dua kota kunci masih dikuasai pihak Soviet, kemampuan Soviet untuk melawan mereka belum dipatahkan, dan Uni Soviet masih memiliki potensi militer yang cukup besar. Fase blitzkrieg pada Perang Eropa telah berakhir.

Wilayah yang dikuasai Poros pada puncak kejayaannya (1941–42).

Pada awal Desember, dengan memobilisasi pasukan cadangan memungkinkan kekuatan Soviet menjadi lebih besar daripada pasukan Poros. Ini, sekaligus juga data intelijen yang memungkinkan Soviet menyisihkan sebagian pasukannya agar cukup untuk menahan serangan dari Tentara Kwantung Jepang di timur, membuat Soviet dapat memulai serangan balik besar-besaran yang dimulai pada tanggal 5 Desember pada front sepanjang 1000 km dan memukul mundur pasukan Jerman ke arah barat sejauh 100 sampai 250 km.

Keberhasilan Jerman di Eropa mendorong Jepang untuk meningkatkan tekanan terhadap pemerintahan Eropa di Asia Tenggara. Pemerintah Belanda setuju untuk memasok Jepang dengan suplai minyak dari Hindia Timur Belanda sambil menolak untuk menyerahkan kendali politik koloninya kepada Jepang. Sebaliknya Prancis Vichy, menyetujui pendudukan Jepang di Indocina Prancis. Amerika Serikat, Inggris dan pemerintahan Barat lainnya bereaksi terhadap pendudukan Indocina dengan membekukan aset-aset Jepang, sementara Amerika Serikat (yang memasok 80% dari kebutuhan minyak Jepang) merespon dengan menetapkan embargo penuh bagi pasokan minyaknya. Itu berarti Jepang sebenarnya dipaksa untuk membuang ambisinya di Asia dan menghentikan perang melawan Cina, atau merebut sumberdaya yang dibutuhkannya secara paksa; militer Jepang tidak menganggap yang pertama tadi adalah pilihan dan banyak perwira militer yang menganggap embargo minyak tersebut adalah pernyataan perang yang terselubung.

Jepang berencana untuk merebut koloni-koloni Eropa di Asia dengan cepat untuk menciptakan parameter defensif yang luas yang terentang sampai ke Pasifik Tengah; kemudian Jepang akan bebas untuk mengeksploitasi sumberdaya di Asia Tenggara sambil membuat lelah pasukan Sekutu yang terentang terlalu jauh dengan melakukan perang bertahan. Untuk mencegah intervensi dari Amerika sambil mengamankan parameter tersebut telah direncanakan lebih jauh untuk menetralisir Armada Pasifik Amerika Serikat dari awal. Pada tanggal 7 Desember (8 Desember di zona waktu Asia), 1941, Jepang menyerang wilayah-wilayah yang dikuasai Inggris dan Amerika di Asia Tenggara dan Pasifik Tengah. Termasuk di antaranya serangan terhadap armada Amerika di Pearl Harbor, pendaratan di Thailand dan Malaya dan pertempuran memperebutkan Hong Kong.

Bulan Februari 1942 Jatuhnya Singapura membuat 80.000 tentara Sekutu ditawan dan diperbudak oleh Jepang.

Serangan-serangan ini membuat AS, Inggris, Australia dan Negara-negara Sekutu lainnya secara resmi menyatakan perang terhadap Jepang. Jerman dan anggota-anggota Pakta Tripartit lainnya merespon dengan menyatakan perang terhadap Amerika Serikat. Pada bulan Januari, Amerika Serikat, Inggris, Uni Soviet, Cina dan 22 negara yang lebih kecil atau negara yang memiliki pemerintahan di luar negeri karena diduduki Jerman atau Jepang mengeluarkan Deklarasi Persatuan Bangsa-Bangsa, yang menguatkan Piagam Atlantik. Uni Soviet tidak menaati deklarasi ini; ia tetap mempertahankan persetujuan kenetralannya dengan Jepang, dan mngecualikan dirinya sendiri dari prinsip keteguhan diri. Sejak tahun 1941, Stalin dengan gigihnya meminta Churchill, kemudian Roosevelt, untuk membuka ‘front kedua’ di Prancis. Front timur menjadi mandala utama perang di Eropa dan jutaan korban jiwa yang dialami Soviet membuat jumlah korban jiwa yang dialami Sekutu menjadi tidak berarti; Churchill dan Roosevelt berkata mereka butuh waktu lebih banyak untuk bersiap-siap, yang membuat Stalin menuduh mereka menunda-nunda untuk ‘menghemat’ nyawa pasukan Sekutu dengan mengorbankan pasukan Soviet.

Sementara itu, pada akhir bulan April 1942, Jepang dan sekutunya, Thailand, telah hampir secara penuh menaklukkan Burma, Malaya, Hindia Timur Belanda, Singapura,dan Rabaul, menewaskan banyak sekali tentara Sekutu dan menawan lebih banyak lagi dari mereka. Walaupun menghadapi perlawanan keras di Corregidor, Filipina. Wilayah tersebut akhirnya jatuh ke tangan Jepang pada bulan Mei 1942, memaksa pemerintahan Persemakmuran Filipina untuk mengasingkan diri. Pasukan Jepang juga meraih kemenangan maritim di Laut Cina Selatan, Laut Jawa dan Samudera Hindia, dan mengebom pangkalan laut Sekutu di Darwin, Australia. Satu-satunya keberhasilan Sekutu melawan Jepang adalah kemenangan Cina di Changsa pada awal Januari January 1942. Kemenangan-kemenangan mudah yang mereka raih membuat pihak Jepang menjadi terlalu percaya diri dan terlalu jauh terentang.

Jerman juga mengalami kesuksesan yang sama. Mengaksploitasi keputusan-keputusan komando AL Amerika yang plinplan, Angkatan Laut Jerman memorakmorandakan perkapalan Sekutu di lepas pantai Atlantik Amerika. Meskipun mengalami kerugian yang besar, anggota-anggota Poros Eropa berhasil menghentikan ofensif besar-besaran Soviet di Rusia Tengah dan Selatan, sambil tetap memegang daerah yang telah mereka rebut pada tahun sebelumnya. Di Afrika Utara,Jerman melancarkan sebuah ofensif pada bulan Januari, memukul mundur Inggris ke posisi awal mereka di Lini Gazala pada awal Februari, disusul dengan jeda dalam pertempuran yang digunakan Jerman untuk mempersiapkan ofensif mereka selanjutnya.

Kemajuan Poros terhambat

Pembom-pembom tukik Amerika menyerang Mikuma pada Pertempuran Midway, Juni 1942.

Pada awal bulan Mei 1942, Jepang memulai operasi untuk merebut Port Moresby dengan serangan amfibi yang nantinya akan memut5us jalur komunikasi dan pasokan antara Amerika Serikat dan Australia. Bagaimanapun, Sekutu berhasil mencegat dan memukul mundur pasukan laut Jepang dan mencegah terjadinya invasi. Rencana Jepang berikutnya, dimotivasi oleh Serbuan Doolittle, adalah untuk merebut Atol Midway dan memancing kapal-kapal induk Amerika ke dalam pertempuran untuk dimusnahkan; sebagai pengalih perhatian, Jepang akan mengirim pasukan untuk menduduki kepulauan Aleut di Alaska. Pada awal Juni, Jepang melaksanakan rencananya tersebut, tapi karena pihak Amerika telah berhasil memecahkan sandi AL Jepang pada akhir Mei menjadi tahu akan rencana-rencana dan pergerakan-pergerakan pasukan Jepang dan menggunakan pengetahuan ini untuk meraih kemenangan yang menentukan terhadap Angkatan Laut Kekaisaran Jepang pada Pertempuran Midway.

Dengan kemampuannya untuk melakukan aksi agresif telah dilumpuhkan oleh Amerika dalam Pertempuran Midway, Jepang memilih untuk memusatkan perhatian pada usahanya untuk merebut Port Moresby yang tertunda dengan cara kampanye darat di wilayah Papua. Pihak Amerika merencanakan serangan balasan terhadap posisi-posisi Jepang di Kepulauan Solomon Selatan, terutama Guadalcanal, sebagai langkah pertama untuk merebut Rabaul, Pangkalan utama Jepang di Asia Tenggara.

Kedua rencana tersebur mulai dilaksanakan pada bulan Juli, tapi pada pertengahan September, pertempuran Guadalcanal menjadi prioritas bagi Jepang dan psaukan yang berada di Papua Nugini diperintahkan untuk mundur dari wilayah Port Moresby menuju ke bagian utara pulau tersebut, dimana mereka menghadapi pasukan gabungan Australia-Amerika Serikat dalam Pertempuran Buna-Gona. Guadalcanal segera menjadi titik fokus bagi kedua pihak dengan pengerahan besar-besaran pasukan dan kapal dalam pertempuran memperebutkan Guadalcanal. Pada permulaan tahun 1943, Jepang mulai mengalami kekalahan di pulau itu dan menarik mundur pasukan mereka. Di Burma, Pasukan Persemakmuran melakukan dua operasi. Yangh pertama, ofensif ke wilayah Arakan pada akhir tahun 1942 yang berakhir dengan bencana yang memaksa mereka mundur sampai ke India pada bulan Mei 1943. Yang kedua adalah penyusupan pasukan ireguler di belakang garis depan Jepang yang pada akhir bulan April mencapai hasil yang tidak jelas.

Serdadu Soviet menyerang sebuah rumah dalam Pertempuran Stalingrad, 1943.

Di front timur Jerman, Poros menggagalkan ofensif Soviet di Semenanjung Kerch dan Kharkov, dan kemudian melancarkan ofensif utama musim panas mereka ke Rusia Selatan pada bulan Juni 1942, untuk merebut ladang-ladang minyak Kaukasus dan menduduki padang stepa Kuban, sambil menjaga posisi di wilayah utara dan tengah dari front tersebut. Jerman membagi Grup AD Selatan menjadi dua grup: Grup AD A yang menyerang lembah sungai Don sementara Grup AD B menyerang ke arah tenggara ke Kaukasus menuju Sungai Volga. Soviet memutuskan untuk bertahan di Stalingrad, yang berada di jalur pasukan Jerman yang sedang bergerak maju.

Pada pertengahan November Jerman hampir berhasil merebut Stalingrad dalam pertempuran jalanan yang berat ketika Soviet memulai ofensif balasan musim dingin mereka, dimulai dengan pengepungan pasukan Jerman di Stalingrad dan serangan ke kantung pertahanan Rzhev di dekat Moskow, walaupun yang ke dua ini gagal total. Pada awal Februari 1943, AD Jerman telah mengalami kerugian yang sangat besar; Pasukan Jerman di Stalingrad telah menyerah dan garis depan mereka telah mundur jauh melewati posisi awalnya pada ofensif musim panas. Pada pertengahan Februari, setelah serangan balik Soviet mereda, Jerman melancarkan serangan ke Kharkov, menciptakan sebuah kantung pertahanan di garis depan mereka sekeliling kota Kursk.

Tank-tank Crusader Inggris bergerak ke garis depan selama kampanye Afrika Utara

Pada bulan November 1941, Pasukan Negara Persemakmuran telah melancarkan ofensif balasan, Operasi Crusader, di Afrika Utara, dan merebut kembali wilayah-wilayah yang dikuasai Jerman dan Italia. Di Afrika Barat, kekhawatiran akan Jepang akan menggunakan pangkalan-pangkalan di Madagaskar yang dikuasai Vichy menyebabkan Ingris menginvasi pulau tersebut pada awal Mei. Keberhasilan ini berhasil ditutupi segera setelah ofensif Poros di Libya yang memukul mundur Sekutu sampai ke Mesir hingga pasukan Poros berhasil di tahan di El Alamein. Di Eropa Daratan, serbuan pasukan komando Sekutu ke sasaran-sasaran strategis berpuncak pada Serbuan Dieppe yang gagal total, menunjukkan ketidakmampuan Sekutu untuk meluncurkan invasi ke Eropa Daratan tanpa persiapan yang baik, perlengkapan yang memadai dan keamanan operasional.

Pada bulan Agustus 1942, Sekutu berhasil menangkal serangan ke dua terhadap El Alamein dan, dengan kerugian yang besar, berhasil mengirim pasokan yang sangat dibutuhkan oleh pulau Malta yang sedang dikepung. Beberapa bulan kemudian, Sekutu melancarkan serangan mereka ke Mesir, memukul mundur pasuka Poros dan memulai gerakan maju mereka ke barat melintasi Libya. Serangan ini segera diikuti oleh invasi gabungan Inggris-Amerika ke Afrika Utara Prancis, yang berakibat wilayah tersebut bergabung dengan Sekutu. Hitler menanggapi pembelotan koloni Prancis tersebut dengan memerintahkan pendudukan Prancis Vichy; walaupun pasukan Vichy tidak menentang pelanggaran gencatan senjata tersebut, mereka berhasil mengandaskan armada laut mereka agar tidak bisa digunakan oleh pasukan Jerman. Pasukan Poros di Afrika yang sekarang telah terjepit mundur ke Tunisia, yang kemudian ditaklukkan oleh Sekutu pada bulan Mei 1943.

Sekutu mendapatkan momentum

Menyusul Kampanye Guadalcanal, Sekutu memulai serangkaian operasi melawan Jepang di Pasifik. Pada bulan Mei 1943, pasukan Sekutu dikirim untuk mengusir pasukan  Jepang dari kepulauan Aleut, dan kemudian segera memulai operasi-operasi besar untuk mengisolasi Rabaul dengan merebut pulau-pulau di sekitarnya, dan untuk membobol parameter Pasifik Tengah Jepang di kepulauan Gilbert dan Marshall. Pada akhir Maret 1944, Sekutu telah menyelesaikan kedua objektif ini, dan sekaligus menetralisir panghkalan besar Jepang di Truk di Kepulauan Caroline. Pada bulan April, Sekutu melancarkan sebuah operasi untuk merebut kembali New guinea Barat.

Pesawat-pesawat Il-2 Soviet sedang menyerang sebuah barisan Wehrmacht pada Pertempuran Kursk, 1 Juli 1943.

Di Uni Soviet, baik Jerman maupun Soviet menghabiskan musim semi dan awal musim panas tahun 1943 untuk memepersiapkan ofensif besar-besaran di Rusia Tengah. Pada tanggal 4 Juli 1943, Jerman menyerang pasukan Soviet di sekeliling kantung pertahanan Kursk. Dalam seminggu, pasukan Jerman telah melemahkan diri mereka sendiri dengan melawan pertahanan Soviet yang tertata baik dan, untuk pertama kalinya dalam perang, Hitler membatalkan operasi tersebut sebelum mencapai keberhasilan taktis maupun operasional. Keputusan ini sebagian dipengaruhi oleh invasi Sekutu ke Sisilia yang dilancarkan pada tanggal 9 July yang digabungkan dengan kegagalan-kegagalan Italia sebelumnya, berakibat pada pengusiran dan penangkapan Mussolini di akhir bulan itu.

Pada tanggal 12 Juli 1943, Soviet melancarkan ofensif balasan mereka yang membuat AD Jerman kehilangan harapan untuk memperoleh kemenangan atau bahkan hasil seri di Front Timur. Kemenangan Soviet di Kursk memicu keruntuhan superioritas Jerman, memberikan Uni Soviet kesempatan untuk berinisiatif di Front Timur. JErman berusaha untuk menstabilkan front timur mereka di sepanjang lini Panther-Wotan yang diperkuat dengan tergesa-gesa, bagaimanapun, Soviet berhasil menembusnya di Smolensk dan dengan melancarkan Ofensif Dnieper Bawah.

Pada awal September 1943,Sekutu menginvasi daratan Italia, menyusul gencatan senjata antara Italia dengan Sekutu. Jerman meresponnya dengan melucuti persenjataan pasukan Italia lalu mengambil alih kendali militer di daerah-daerah yang dikuasai Italia, dan membangun beberapa lini pertahanan. Pasukan khusus Jerman lalu menyelamatkan Mussolini, yang kemudian mendirikan negara boneka baru di bagian Italia yang masih dikuasai Jerman dengan nama Republik Sosialis Italia. Sekutu bertempur menembus beberapa lini sampai tiba di lini pertahanan utama Jerman pada pertengahan November.

Operasi-operasi Jerman di Atlantik juga menderita kekalahan. Pada bulan Mei 1943 bersamaan dengan semakin efektifnya pertahanan Sekutu yang membuat armada kapal selam Jerman mengalami kehilangan besar-besaran memaksa mereka menghentikan sementara kampanye laut Jerman di Atlantik. Pada bulan November 1943, Franklin D. Roosevelt dan Winston Churchill bertemu dengan Chiang Kai-shek di Kairo dan kemudian dengan Joseph Stalin di Teheran. Konferensi dengan Chiang Kai-shek menentukan pengembalian daerah yang dikuasai Jepang kepada Cina pasca-perang, sementara yang dengan Stalin mengikutkan persetujuan bahwa Sekutu akan menginvasi Eropa pada tahun 1944 dan Uni Soviet akan menyatakan perang kepada Jepang dalam waktu tiga bulan setelah kekalahan Jerman.

Tentara Inggris menembakkan mortir pada Pertempuran Imphal di India Timur Laut, 1944.

Mulai dari bulan November 1943, pada pertempuran Changde yang berkecamuk selama 7 minggu, China memaksa Jepang menguras segala sumberdaya mereka sambil menunggu bala bantuan dari Sekutu. Pada bulan January 1944, Sekutu melancarkan serangkaian serangan di Italia terhadap lini di Monte Cassino dan mencoba untuk menohoknya dari samping dengan melakukan pendaratan di Anzio. Pada akhir Januari, sebuah ofensif besar-besaran yang dilancarkan oleh Soviet menendang pasukan Jerman dari wilayah Leningrad, mengakhiri pengepungan yang paling panjang dan mematikan dalam sejarah. Ofensif Soviet yang menyusul kemudian tertahan oleh Grup AD Utara Jerman di perbatasan Estonia yang di bantu oleh pihak Estonia dengan harapan untuk memerdekakan diri mereka. Penundaan ini memperlambat operasi-operasi Soviet di wiliayah Laut Baltik. Pada akhir Mei 1944, Soviet telah membebaskan Krimea, mengusir pasukan Poros dari Ukraina dan membuat beberapa serangan ke Rumania, yang berhasil dipatahkan oleh pasukan Poros. Ofensif Sekutu di italia telah berhasil dan, dengan terpaksa membiarkan beberapa divisi Jerman meloloskan diri, pada tanggal 4 Juni Roma berhasil direbut.

Sekutu mengalami berbagai macam kegagalan dan keberhasilan di Asia daratan. Pada bulanMaret 1944, Jepang melancarkan invasi pertama dari dua yang mereka siapkan, sebuah operasi terhadap posisi-posisi Inggris di Assam, India, dan segera mengepung posisi-posisi pasukan Persemakmuran di Imphal dan Kohima. Pada bulan Mei 1944, pasukan Inggris melancarkan ofensif balasan yang memukul mundur pasukan Jepang sampai ke Birma, dan pasukan Cina yang telah menginvasi Birma Utara pada akhir 1943 mengepung tentara Jepang di Myitkyina. Invasi ke dua Jepang mencoba untuk menghancurkan pasukan tempur utama Cina, mengamankan jalur kereta api antara wilayah-wilayah yang dikuasai Jepang dengan lapangan-lapangan udara Sekutu yang telah mereka rebut. Pada bulan Juni, Jepang telah menaklukkan propinsi Henan dan memulai sebuah serangan baru terhadap Changsa di propinsi Hunan.

Sekutu Mulai Mendekat

Invasi Sekutu ke Normandia, 6 Juni 1944

Pada tanggal 6 Juni 1944 (yang dikenal sebagai D-Day), setelah didesak Soviet selama tiga tahun, Sekutu menginvasi Prancis Utara. Setelah mengalihkan beberapa divisi Sekutu dari Italia, mereka juga menyerang Prancis Selatan. Pendaratan-pendaratan ini berhasil, dan berujung kepada kekalahan unit-unit AD Jerman di Prancis. Paris dibebaskan oleh pejuang lokal dibantu oleh Pasukan Pembebasan Prancis pada tanggal 25 Agustus dan Sekutu terus mendesak mundur pasukan Jerman di Eropa Barat sepanjang tahun itu. Sebuah percobaan untuk maju ke Jerman Utara diujungtombaki oleh sebuah operasi lintas udara besar-besaran di Belanda berakhir dengan kegagalan. Setelah itu, Sekutu secara perlahan masuk ke wilayah Jerman, dan gagal dalam unsahanya untuk menyeberangi sungai Rur. Di Italia kemajuan Sekutu juga melambat, ketika mereka bertemu dengan lini pertahanan utama terakhir Jerman.

Anggota dan peralatan Tentara Merah sedang menyeberangi sungai selama ofensif ke utara, musim panas 1944

Pada tanggal 22 Juni, Soviet melancarkan ofensif strategis di Belarusia (dikenal dengan “Operasi Bagration”) yang mengakibatkan hampir musnahnya Grup AD Utara Jerman. Segera setelah itu, ofensif strategis Soviet lainnya memaksa tentara Jerman hengkang dari Ukraina Barat dan Polandia Timur. Keberhasilan-keberhasilan tentara Soviet tersebut memberi tanda pasukan perlawanan di Polandia untuk memulai beberapa pemberontakan, walaupun pemberontakan yang paling besar di Warsawa, seperti juga Pemberontakan Slowakia di selatan, tidak dibantu oleh Soviet dan berhasil dipadamkan oleh pasukan Jerman. Ofensif strategis Tentara Merah di Rumania Timur memotong dan menghancurkan sejumlah besar pasukan Jerman di sana dan memicu kudeta yang berhasil di Rumania dan di Bulgaria, diikuti oleh perpindahan keberpihakan negara-negara tersebut ke Sekutu.

Para gerilyawan Polandia selama Pemberontakan Warsawa.

Pada bulan September 1944, Tentara Merah Soviet maju menuju Yugoslavia dan memaksakan pemunduran cepat Grup AD E dan F Jerman di Yunani, Albania Yugoslavia agar mereka tidak terkepung. Pada titik ini, Partisan Komunis yang dipimpin oleh Marsekal Josip Broz Tito, yang telah memimpin kampanye gerilya yang semakin berhasil melawan pendudukan Jerman sejak tahun 1941, mengendalikan sebagian besar wilayah Yugoslavia dan terlibat dalam menunda upaya-upaya Jerman di selatan. Di Serbia Utara, Tentara Merah, dengan dukungan terbatas dari pasukan Bulgaria, membantu para Partisan dalam pembebasan gabungan ibukota Beograd pada tanggal 20 Oktober. Beberapa hari kemudian, Soviet melancarkan serangan besar-besaran terhadap Hungaria yang diduduki Jerman yang berlangsung sampai jatuhnya Budapest pada bulan Februari 1945. Berlawanan dengan kemenangan-kemenangan Soviet di wilayah Balkan, perlawanan habis-habisan Finlandia terhadap ofensif Soviet di Semenanjung Karelia menggagalkan pendudukan Finlandia oleh Soviet dan berujung pada penandatanganan gencatan senjata Soviet-Finlandia dengan persyaratan yang cukup lunak, dan dilanjutkan dengan berpihaknya Finlandia kepada Sekutu.

Pada awal Juli, pasukan Persemakmuran di Asia Tenggara telah mematahkan kepungan Jepang di Assam, memukul mundur mereka sampai ke Sungai Chindwin sementara Cina merebut Myitkyina. Di Cina, Jepang mengalami keberhasilan yang lebih besar, setelah akhirnya berhasil merebut Changsha pada pertengahan Juni dan kota Hengyang pada awal Agustus. Segera setelahnya, mereka menginvasi propinsi Guangxi, memenangakan pertempuran besar melawan pasukan Cina di Guilin dan Liuzhou pada akhir November dan berhasil menghubungkan pasukan mereka di Cina dengan yang di Indocina pada pertengahan Desember.

Di Pasifik, pasukan Amerika terus menciutkan parameter Jepang. Pada pertengahan Juni 1944 mereka memulai ofensif mereka ke kepulauan Mariana dan Palau, mengalami kemenangan yang menentukan terhadap pasukan Jepang di Laut Filipina dalam waktu beberapa hari. Kekalahan-kekalahan ini berujung kepada pengunduran diri PM Jepang Tōjō dan memberikan AS pangkalan-pangkalan udara untuk melancarkan serangan-serangan pembom berat yang intensif di kepulauan Jepang. Pada akhir Oktober, pasukan Amerika menginvasi Pulau Leyte di Filipina; segera kemudian, pasukan laut Sekutu berhasil memperoleh kemenangan besar selama Pertempuran Teluk Leyte, salah satu pertempuran laut terbesar dalam sejarah.

Runtuhnya Poros, Menangnya Sekutu

Tentara Amerika dan Soviet bertemu pada bulan April 1945, di timur Sungai Elbe.

Pada tanggal 16 Desember 1944, Jerman mencoba lagi dalam upaya terakhirnya untuk meraih keberhasilan di Front Barat dengan menggalang pasukan cadangan Jerman untuk melancarkan ofensif balasan besar-besaran di Ardennes untuk mencoba memecah kekuatan Sekutu, menegpung mereka dan merebut pelabuhan suplai mereka di Antwerpen agar dapat kesempatan untuk mendapatkan keuntungan politis. Pada bulan Januari, ofensif tersebut berhasil dipatahkan tanpa dapat menyelesaikan satupun tujuan strategis mereka. Di Italia, Sekutu tetap tertahan di lini pertahanan Jerman. Pada pertengahan Januari 1945, Soviet menyerang di Polandia, bergerak maju dari Vistula ke sungai Oder di Jerman dan menguasai Prusia Timur. Pada tanggal 4 Februari, para pemimpin AS, Inggris, dan Soviet bertemu di Yalta. Mereka setuju akan perumusan pendudukan Jerman pasca-perang, dan kapan Uni Soviet akan bergabung dalam perang melawan Jepang.

Pada bulan Februari, Soviet menginvasi Silesia dan Pomerania, sementara Sekutu menginvasi Jerman Barat dan mendekati sungai Rhine. Pada bulan Maret, Sekutu menyeberangi sungai Rhine di sebelah utara dan selatan Ruhr, mengepung Grup AD B Jerman, sementara Soviet maju menuju ke Wina. Pada awal April, Sekutu akhirnya berhasil mendesak maju di Italia dan bergerak melalui Jerman Barat, sementara pasukan Soviet menyerbu Berlin pada akhir April; kedua pasukan tersebut bergabung di sungai Elbe pada tanggal 25 April. Pada tanggal 30 April 1945, gedung Reichstag direbut, menandakan kekalahan militer Kekaisaran Ketiga.

Jalanan pusat kota Berlin yang hancur lebur pasca Pertempuran Berlin, foto ini diambil tanggal 3 Juli 1945.

Beberapa perubahan kemimpinan terjadi dalam periode ini. Pada tanggal 12 April, Presiden AS, Roosevelt, wafat dan diganti dengan Harry Truman. Benito Mussolini dibunuh oleh anggota partisan Italia pada tanggal 28 April. Dua hari kemudian, Hitler bunuh diri, dan digantikan oleh Laksamana Besar Karl Dönitz.

Pasukan Jerman di Italia menyerah pada tanggal 29 April. Rancangan surat penyerahan diri Jerman ditandatangani pada tanggal 7 Mei di Rheims, dan diratifikasi pada tanggal 8 Mei di Berlin. Grup AD Tengah Jerman bertahan di Praha sampai tanggal 11 Mei.

Di mandala Pasifik, Pasukan Amerika dibantu oleh pasukan Persemakmuran Filipina bergerak maju di Filipina menguasai Leyte pada akhir April 1945. Mereka mendarat di Luzon pada bulan Januari 1945 dan merebut Manila pada bulan Maret, yang meluluhlantakkan kota tersebut. Pertempuran berlanjut di pulau Luzon, Mindanao dan pulau-pulau lain di Filipina sampai akhir perang.

Ledakan nuklir di Nagasaki, 9 Agustus 1945.

Pada bulan Mei 1945, pasukan Australia mendarat di Kalimantan, merebut ladang-ladang minyak di sana. Pasukan Inggris, Amerika dan Cina mengalahkan Jepang di Burma utara pada bulan Maret, dan Inggris maju terus untuk mencapai Rangoon pada tanggal 3 Mei. Pasukan Cina mulai membalas serangan pada Pertempuran Hunan Barat yang terjadi antara tanggal 6 April dan 7 Juni 1945. Pasukan Amerika juga bergerak menuju Jepang, merebut Iwo Jima pada bulan Maret, dan Okinawa pada akhir Juni. Pembom-pembom Amerika menghancurkan kota-kota Jepang, dan armada kapal selam Amerika menghalangi jalur impor Jepang.

Pada tanggal 11 Juli, para pemimpin Sekutu bertemu di Potsdam, Jerman. Mereka mengkonfirmasi persetujuan-persetujuan yang mereka buat sebelumnya tentang Jerman, dan menyebutkan kembali tuntutan akan penyerahan tanpa syarat semua pasukan Jepang oleh pemerintahan Jepang, secara spesifik menyatakan bahwa “alternatif lain untuk Jepang hanyalah kehancuran total yang segera”. Selama konferensi ini Inggris menunda pemilu mereka, dan Clement Attlee menggantikan Churchill sebagai Perdana Menteri. Ketika Jepang tetap tidak mengindahkan persyaratan dari konferensi Potsdam, Amerika Serikat menjatuhkan bom atom di Hiroshima dan Nagasaki pada awal Agustus. Pada jeda antara penjatuhan kedua bom tersebut, Soviet, menaati hasil persetujuan Yalta, menginvasi Manchuria yang dikuasai Jepang, dan dengan cepat mengalahkan Tentara Kwantung, yang merupakan pasukan tempur utama Jepang di sana. Tentara Merah juga merebut Pulau Sakhalin dan Kepulauan Kuril. Pada tanggal 15 Agustus 1945 Jepang menyerah, dengan dokumen penyerahan diri akhirnya ditandatangani di atas dek kapal tempur AS USS Missouri pada tanggal 2 September 1945, mengakhiri perang.

Kesudahan

Para komandan tertinggi Sekutu pada tanggal 5 Juni 1945 di Berlin: Bernard Montgomery, Dwight D. Eisenhower, Georgy Zhukov dan Jean de Lattre de Tassigny

Sekutu mendirikan administrasi pendudukan di Austria dan Jerman. Austria menjadi negara netral, non-blok. Sementara Jerman dibagi menjadi zona pendudukan barat dan timur yang masing-masing dikendalikan oleh Sekutu dan Uni Soviet. Sebuiah program denazifikasi di Jerman berujung pada pengadilan terhadap penjahat-penjahat perang Nazi dan pencopotan para mantan anggota Nazi dari tampuk kekuasaan, walaupun kebijakan ini mengarah kepada pengampunan dan reintegrasi para mantan anggota Nazi ke masyarakat Jerman Barat. Jerman kehilangan seperempat wilayahnya sebelum perang (1937), wilayahnya di timur: Silesia, Neumark dan sebagian besar Pomerania diambil alih oleh Polandia; Prusia Timur dibagi antara Polandia dan Uni Soviet, disusul dengan pengusiran 9 juta orang Jerman dari propinsi-propinsi ini, begitu juga dengan 3 juta warga Jerman dari Sudetenland di Cekoslowakia, ke Jerman. Pada tahun 1950an, 1 dari lima warga Jerman Barat adalah pengungsi dari timur. Uni Soviet juga mengambil alih propinsi-propinsi di sebelah timur garis Curzon (yang mana 2 juta warga {Polandia diusir dari situ), Rumania Timur, dan sebgian dari Finlandia Timur dan tiga Negara Baltik.

Perdana Menteri Winston Churchill memberikan tanda “Victory” kepada kerumunan warga di London pada Hari Kemenangan di Eropa.

Dalam rangka untuk menjaga perdamaian, Sekutu membentuk Persatuan Bangsa-Bangsa, yang secara resmi berdiri pada tanggal 24 Oktober 1945, dan menyatakan Deklarasi Universal Hak Asasi Manusia pada tahun 1948, sebagai standar bagi negara-negara anggotanya. Persekutuan antara Sekutu dan Uni Soviet mulai memburuk bahkan sebelum perang berakhir, Jerman telah terbagi dua secara de facto, dan dua negara independen Republik Federal Jerman, di wilayah pendudukan Sekutu, dan Republik Demokratik Jerman, di wilayah pendudukan Soviet, pun berdiri. Sebagian besar Negara Eropa Tengah dan Timur jatuh ke pengaruh Soviet, yang berujung pada berdirinya rezim-rezim komunis, dengan dukungan penuh maupun sebagian dari pihak pendudukan Soviet. Alhasil, Polandia, Hungaria, Cekoslowakia, Rumania, Albania, dan Jerman Timur menjadi negara-negara satelit Soviet. Yugoslavia yang juga menganut paham komunis mengeluarkan kebijakan untuk tidak bergantung kepada negara induknya yang menyebabkan  ketegangan dengan Uni Soviet.

Pemecah-mecahan peta dunia pasca-perang di resmikan oleh berdirinya dua persekutuan militer internasional, yaitu NATO yang dipimpin oleh Amerika Serikat dan Pakta Warsawa yang dipimpin oleh Uni Soviet; ketegangan-ketegangan politik dan kompetisi-kompetisi di biddang militer dalam jangka panjang, Perang Dingin, akan diiringi oleh perlombaan senjata yang unprecedented dan perang-perang proksi.

Peta kolonisasi dunia pada akhir Perang Dunia II pada tahun 1945. Dengan berakhirnya perang, perang-perang pembebasan nasional menyusul, menyebabkan terciptanya Israel, dekolonisasi Asia yang sering berdarah dan (kemudian) Afrika.

Di Asia, Amerika Serikat menduduki Jepang dan memerintah kepulauan-kepulauan yang tadinya milik jepang di Pasifik Barat, sementara Soviet menganeksasi kepulauan Sakhalin dan Kuril. Korea, yang tadinya di bawah pemerintahan Jepang, dipecah dan diduduki AS di selatan dan oleh Uni Soviet di utara antara tahun 1945 dan 1948. Republik-republik yang terpisah muncul dari kedua sisi garis paralel 38 derajat pada tahun 1948, masing-masing mengklaim sebagai pemerintah sah seluruh Korea, yang menyebabkan Perang Korea. Di Cina, pasukan nasionalis dan komunis melanjutkan kembali perang saudara mereka pada bulan Juni 1946. Pasukan komunis menang dan mendirikan Republik Rakyat Cina di daratan, sementara pasukan nasionalis mundur ke Taiwan pada tahun 1949. Di Timur Tengah, penolakan bangsa Arab terhadap Rencana Partisi PBB untuk Palestina dan penciptaan Israel menandai eskalasi konflik Arab-Israel. Sementara kekuatan kolonial Eropa mencoba untuk mempertahankan beberapa atau semua Negara-negara koloni mereka, tapi kehilangan gengsi dan sumberdaya yang mereka alami selama perang membuat usaha tersebut tidak berhasil, berakhir pada dekolonisasi.

Ekonomi dunia menjadi sangat kacau karena perang, walaupun para pihak yang terlibat PD2 terpengaruh dengan tingkat yang berbeda-beda. AS menjadi jauh lebih kaya daripada bangsa lainnya; ia mengalami baby boom dan pada tahun 1950 Pendapatan Kotor per Kapitanya jauh lebih tinggi daripada Negara-negara lain dan mendominasi ekonomi dunia. Inggris dan AS menganut kebijakan pelucutan industri di Jerman Barat pada tahun 1945–1948. Dikarenakan antarketergantungan perdagangan internasional ini mengarah kepada stagnasi ekonomi Eropa dan menunda pemuliha Eropa selama beberapa tahun. Pemulihan dimulai pada pertengahan tahun 1948 dengan melakukan reformasi mata uang di Jerman Barat, dan dipercepat oleh liberalisasi kebijakan ekonomi Eropa yang disebabkan secara langsung atau tidak langsung oleh rencana Marshall (1948–1951). Pemulihan Jerman Barat pasca 1948 telah disebut sebagai mukjizat ekonomi Jerman. Perekonomian Italia dan Prancis juga menyusul pulih. Dan sebaliknya, perekonomian Inggris dalam keadaan yang bias dibilang hancur, dan berlanjutmenjadi penurunan ekonomi relative selama beberapa dekade. Uni Soviet, walapun mengalami kerugian SDM dan materi yang besar, juga segera mengalami peningkatan dalam produksi dalam era pasca-perang. Jepang mengalami pertumbuhan ekonomi yang sangat cepat, menjadi salah satu negara dengan ekonomi yang kuat di dunia pada tahun 1980an. Cina kembali ke kondisi produksi industrinya ketika sebelum perang pada tahun 1952.

Imbas

Korban jiwa dan kejahatan perang

Korban Jiwa pada Perang Dunia II

Perkiraan total korban jiwa bervariasi, karena banyak kematianyang tidak tercatat. Sebgian besar orang menyatakan bahwa sekitar 60 juta orang tewas dalam perang, termasuk sekitar 20 juta serdadu dan 40 juta warga sipil. Banyak warga sipil disebabkan oleh penyakit, kelaparan, pembantaian, pemboman dan pembersihan etnis. Uni Soviet kehilangan sekitar 27 juta orang selama perang, termasuk di antaranya 8,7 juta anggota militer dan 19 juta warga sipil. Satu dari dari empat warga Soviet tewas atau terluka dalam perang. Jerman mengalami kehilangan 5.3 juta anggota militer, paling banyak di Front Timur dan selama pertempuran-pertempuran terakhir di Jerman.

Dari jumlah total korban jiwa pada Perang Dunia II sekitar 85 persen — paling banyak dari Soviet dan Cina — memihak Sekutu dan 15 persen memihak Poros. Banyak dari kematian-kematian tersebut disebabkan oleh kejahatan perang yang dilakukan oleh pasukan Jerman dan Jepang di daerah yang mereka duduki. Diperkirakan sekitar 11 sampai 17 juta warga sipil tewas sebagai hasil langsung maupun tak langsung dari kebijakan-kebijakan ideologis Nazi, termasuk pembersihan etnis yang memakan korban enam juta warga Yahudi yang dilakukan secara sistematis selama Holocaust bersaman dengan lima juta kaum Roma, Slavs, homoseksual dan kelompok etnis dan minoritas lainnya. Sekitar 7,5 juta warga sipil tewas di Cina selama pendudukan Jepang di sana, dan ratusan ribu suku Serbia, beserta gipsi dan Yahudi, dibunuhi oleh suku Ustaše Kroasia yang memihak Poros di tempat yang akan menjadi Yugoslavia,  dengan pembunuhan-pembunuhan warga Kroasia yang berhubungan dengan retribusi di penghujung perang.

Warga sipil Cina yang akan dikubur hidup-hidup oleh serdadu Jepang.

Kebiadaban Jepang yang paling terkenal adalah Pembantaian Nanking,dimana beberapa ratus ribu warga sipil Cina diperkosa dan dibunuh. Antara 3 juta samapai lebih dari 10 juta warga sipil, yang sebagian besar warga Cina, dibunuh oleh pasukan pendudukan Jepang. Mitsuyoshi Himeta melaporkan 2,7 juta korban jiwa jatuh selama Sankō Sakusen. Jenderal Yasuji Okamura mengimplementasikan kebijakan tersebut di Heipei dan Shantung.

Pasukan Poros menggunakan senjata biologis dan kimia secara terbatas. Italian menggunakan gas mustard selama penaklukan Abyssinia, sementara AD Kekaisaran Jepang menggunakannya selama invasi dan pendudukan mereka di Cina (lihat Unit 731) dan pada awal konflik dengan Soviet. Baik Jerman maupun Jepang menguji senjata-senjata tersebut dengan menggunakan warga sipil sebagai kelinci percobaan dan, dalam beberapa kasus, menggunakan tawanan perang

Sementara banyak tindakan-tindakan Poros yang dibawa ke pangadilan internasional, insiden-insiden yang dilakukan oleh Sekutu tidak. Contohnya adalah pemindahan populasi diUni Soviet dan penginterniran warga berdarah campuran Jepang-Amerika di Amerika Serikat; Operasi Keelhaul, Pengusiran warga Jerman setelah Perang Dunia II, pemerkosaan massal wanita Jerman oleh Tentara Merah Soviet; pembantaian Katyn  di Uni Soviet, dimana justru Jerman yang didakwa melakukannya. Kematian akibat kelaparan dalam jumlah besar juga bias dihubungkan dengan perang, seperti kelaparan di Bengali tahun 1943 dan kelaparan di Vietnam pada tahun 1944 – 45.

Beberapa ahli sejarah juga menganggap bahwa pemboman warga sipil di wilayah musuh, termasuk Tokyo dan yang paling menonjol adalah kota-kota Jerman seperti Dresden, Hamburg dan Cologne oleh Sekutu, yang mengakibatkan kehancuran lebih dari 160 kota dan kematian sekitar 600.000 warga sipil Jerman adalah kejahatan perang juga.

Kamp-kamp konsentrasi dan perbudakan

Kaum Nazi bertanggung jawab atas Holocaust, pembunuhan sekitar enam juta orang Yahudi (yang paling banyak berasal dari suku Ashkenazim), begitu pula dengan dua juta kaum etnis Polandia dan empat juta lainnya yang dianggap “makhluk tak berharga” (termasuk diantaranya orang cacat fisik atau mental, tawanan perang asal Soviet, kaum homoseksual, Freemason, Saksi Jehovah, dan Romani) sebagai bagian dari pembasmian yang memang disengaja. Sekitar 12 juta orang, sebagian besar warga Eropa Timur, dilibatkan dalam ekonomi perang Jerman sebagai pekerja paksa.

Mayat-mayat di kamp konsentrasi Mauthausen-Gusen setelah pembebasan, kemungkinan mereka adalah tahanan politik atau tawanan perang asal Soviet

Sebagai tambahan, selain kamp konsentrasi Nazi, gulag-gulag (kamp pekerja) Soviet juga mengakibatkan kematian warga negara-negara yang diduduki Uni Soviet seperti Polandia, Lithuania, Latvia, dan Estonia, begitupula dengan tawanan perang asal Jerman dan bahkan warga negara Soviet yang dianggap sebagai pendukung Nazi. Enampuluh persen dari tawanan perang asal Soviet tewas dalam perang. Richard Overy memperkirakan sekitar 5,7 juta orang tawanan perang asal Soviet dimana 57 persen dari mereka meninggal atau dibunuh, totalnya sekitar 3,6 juta mantan tawanan perang asal Soviet dan warga sipil yang direpatriasi diperlakukan dengan penuh prasangka sebagai antek Nazi, dan beberapa dari mereka dikirim ke GULAG setelah diperiksa oleh NKVD.

Kamp-kamp tawanan perang Jepang, banyak diantaranya digunakan sebagi kamp pekerja, juga memiliki tingkat kematian yang tinggi. Pengadilan Militer Internasional untuk Timur Jauh menemukan bahwa tingkat kematian tawanan perang barat yang ditahan Jepang adalah 27,1 persen (untuk yang berasal dari Amerika, 37 persen), tujun kali lebih tinggi daripada yang ditawan oleh Jerman dan Italia. Sementara 37.583 tawanan dari Inggris, 28.500 dari Belanda, dan 14.473 dari Amerika Serikat dilepaskan setelah menyerahnya Jepang, yang dari Cina hanya 56 orang.

Menurut sejarawan Zhifen Ju, paling tidak lima juta warga sipil Cina dari Cina Utara dan Manchukuo diperbudak antara tahun 1935 and 1941 oleh Dewan Pembangunan Asia Timur, atau Kōain, untuk bekerja di pertambangan dan industry perang. Setelah tahun 1942, jumlahnya mencapai 10 juta. U.S. Library of Congress memperkirakan bahwa di Jawa, antara 4 sampai 10 juta romusha (buruh manual), dipaksa untuk bekerja oleh militer Jepang. Sekitar 270.000 dari buruh-buruh asal Jawa ini dikirim ke wilayah-wilayah yang dikuasai Jepang di seluruh Asia Tenggara, dan hanya 52.000 orang yang dipulangkan ke Jawa.

Para tawanan yang diperlakukan tidak baik dan dibiarkan kelaparan di kamp Mauthausen, Austria, 1945

Pada tanggal 19 Februari 1942, Roosevelt menandatangani Executive Order 9066, menginternir ratusan ribu warga Jepang, Italia, keturunan Jerman, dan beberapa emigran dari Hawaii yang melarikan diri setelah penyerangan Pearl Harbor selama perang berlangsung. Pemerintah AS dan Kanada menginternir 150.000 warga keturunan Jepang, dan hampir 11.000 warga Jerman dan Italia di AS.

Sesuai dengan persetujuan Sekutu yang dibuat di konferensi Yalta, jutaan tawanan perang dan warga sipil digunakan sebagai pekerja paksa oleh Uni Soviet. Dalam kasus di Hungaria, Warga Hungaria dipaksa bekerja untuk Uni Soviet sampai tahun 1955.

Front tanah air dan produksi

Rasio Pendapatan Kotor per Kapita antara Sekutu dengan Poros

T-34 Soviet, tank yang paling banyak diproduksi dalam perang, berangkat ke medan laga. Lebih dari 57.000 T-34 telah dibuat di Uni Soviet sampai tahun 1945.

Di Eropa, sebelum perang pecah, Sekutu memiliki kelebihan yang signifikan dan segi populasi dan ekonomi. Pada tahun 1938, Sekutu (Inggris, Prancis, Polandia dan negara-negara dominion Inggris) memiliki populasi dan Pendapatan Kotor per Kapita 30 persen lebih besar dari pada Poros Eropa (Jerman dan Italia); jika koloni-koloni mereka diikutkan, maka itu akan memberikan Sekutu lebih dari 5:1 kelebihan dalam pupolasi dan hampir 2:1 kelebihan dalam Pendapatan Kotor Per Kapita. Di Asia pada saat yang sama, Cina memiliki populasi sekitar enam kali lebih banyak dari Jepang, tapi GDPnya hanya 89 persen lebih tinggi; angka tersebut bias berkurang menjadi populasi tiga kali lebih banyak dan GDP 38 persen lebih tinggi jika koloni-koloni Jepang dimasukkan ke dalam perhitungan.

Walaupun keuntungan ekonomi dan populasi Sekutu banyak berkurang selama awal serangan blitzkrieg Jerman dan Jepang, hal tersebut menjadi faktor penentu pada tahun 1942, setelah Amerika Serikat dan Uni Soviet bergabung dengan Sekutu,saat jalannya perang mulai mandek. Sementara kemampuan Sekutu untuk mengalahkan kecepatan produksi Poros sering disebut-sebut karena mereka memiliki akses lebih ke sumberdaya alam, faktor-faktor lainnya, seperti keengganan Jerman dan Jepang untuk memperkerjakan wanita dalam pasukan pekerjanya, pemboman strategis yang dilakukan Sekutu, dan perpindahan Jerman ke ekonomi perang yang terlambat juga turut andil. Sebagai tambahan, Jerman maupun Jepang tidak merencanakan untuk melakukan perang berlarut-larut, dan tidak memiliki perlengkapan untuk melakukannya. Untuk memperbaiki produksi mereka, Jerman dan Jepang menggunakan jutaan buruh budak; Jerman menggunakan sekitar 12 juta orang, sebgian besar berasal dari Eropa Timur, sementara Jepang menggunakan lebih dari 18 juta orang di Asia Timur Jauh.

Pendudukan

Para anggota partisan Soviet digantung oleh pasukan Jerman pada bulan Januari 1943

Di Eropa, pendudukan dikategorikan menjadi dua bentuk. Di Eropa Barat, Utara dan Tengah (Prancis, Norwegia, Denmark, the Low Countries, dan bagian dari Cekoslowakia yang dianeksasi) Jerman mengeluarkan kebijakan-kebijakan ekonomi yang memberikan pendapatan sekitan 69,5 miliar reichmark (27,8 miliar dolar AS) sampai akhir perang; angka ini tidak termasuk penjarahan besar-besaran terhadap produk-produk industry, peralatan militer, bahan mentah dan komoditas-komoditas lainnya. Maka dari itu, pendapatan yang didapat dari negara-negara yang didudukinya adalah lebih dari 40 persen pendapatan Jerman yang didapat dari pajak, angka yang naik lebih dari 40 persen dari pendapatan total Jerman selama perang berlangsung.

Di Timur, hasil dari Lebensraum tidak pernah didapat dikarenakan garis depan yang berfluktuasi dan kebijakan bumihangus Soviet menyebabkan Jerman tak dapat menggunakan sumberdaya di daerah Uni Soviet yang mereka duduki. Tidak seperti di Barat, kebijakan rasial Nazi mendorong terjadinya kebrutalan berlebihan terhadap apa yang mereka anggap sebagai “manusia rendahan” yang terdiri dari keturunan Slavik; kebanyakan gerak maju Jerman hampir selalu diikuti dengan eksekusi massal. Walaupun kelompok-kelompok perlawanan terbentuk di wilayah-wilayah yang diduduki, mereka tidak begitu menghalangi operasi-operasi Jerman di Timur maupun Barat sampai akhoir 1943.

Di Asia, Jepang menyebut bangsa-bangsa yang mereka duduki sebagai bagian dari Lingkup Kemakmuran Bersama Asia Timur Raya, yang sebenarnya adala hegemoni Jepang yang berkedok sebagai alat pembebasan rakyat yang dijajah. Walaupun pasukan Jepang awalnya disambut sebagai pembebas dari dominasi bangsa Eropa di banyak wilayah, kebrutalan mereka yang berlebihan menjadi bumerang bagi mereka dalam hitungan minggu. Selama penaklukan awalnya, Jepang merebut 4.000.000 barel (640.000 m3) minyak  (~5.5×105 ton) yang ditinggalkan oleh pasukan Sekutu yang mundur, dan sampai tahun 1943 mampu meningkatkan produksi minyak di Hindia Timur Belanda sampai 50 juta barel (~6.8×106 ton), 76 persen dari tingkat produksi pada tahun 1940.

Kemajuan teknologi dan seni perang

Pesawat terbang digunakan untuk pengintaian, sementara pesawat tempur, pembom dan serang-darat, dan tiap peran semakin maju. Inovasi meliputi angkutan udara (kemampuan untuk menggerakkan pasokan prioritas tinggi terbatas, peralatan dan personel); dan pemboman strategis (pemboman wilayah sipil untuk menghancurkan industri dan moral. Persenjataan anti-pesawat terbang juga semakin maju, termasuk pertahanan seperti radar dan artileri darat-ke-udara, seperti meriam 88 mm Jerman. Penggunaan pesawat jet juga berawal di perang ini, dan walaupun pengenalannya yang terlambat hanya membawa pengaruh sedikit, tapi jet sekarang menjadi standar di angkatan udara di seluruh dunia.

U-995 Tipe VIIC di monumen angkatan laut Jerman di Laboe. Antara tahun 1939 dan 1945, 3.500 kapal dagang Sekutu (tonase kotor 14,5 juta) dikaramkan dengan korban 783 kapal selam Jerman.

Kemajuan-kemajuan dibuat hampir di semua aspek peperangan laut, yang paling kentara adalah kapal induk dan kapal selam. Walaupun pada awal perang peperangan udara tidak begitu berhasil, serangan-serangan di Taranto,P earl Harbor, Laut Cina Selatan dan Laut Koral menjadikan kapal induk sebagai kapal utama yang dominan menggantikan kapal tempur. Di Atlantik, kapal-kapal induk pengawal terbukti menjadi bagian vital dari konvoi laut Sekutu, meningkatkan radius perlindungan efektif dan membantu menutup celah Atlantik Tengah. Kapal induk juga lebih ekonomis dibandingkan kapal tempur dikarenakan ongkos pembuatan pesawat terbang secara relatif lebih murah dan tidak perlu diberi lapisan pelindung yang tebal. Kapal selam, yang telah terbukti menjadi senjata yang efektif selama Perang Dunia Pertama sudah diantisipasi oleh semua pihak sebagai senjata penting bila terjadi Perang Dunia Kedua. Inggris memusatkan perhatian pada pengembangan senjata dan taktik anti-kapal selam, seperti sonar dan konvoi, sementara Jerman memusatkan perhatian untuk meningkatkan kemampuan serang kapal selamnya, dengan rancangan kapal selam Tipe VII dan taktik gerombolan serigala (wolfpack). Daripada lampu Leigh, hedgehog, squid, dan torpedo pelacak terbukti membawa kemenangan.

Perang darat berubah dari garis depan statis pada Perang Dunia I menjadi mobilitas yang meningkat dan kombinasi persenjataan. Tank, yang digunakan sebagai pendukung infantri pada Perang Dunia Pertama, telah berevolusi menjadi senjata utama. Pada akhir tahun 1930an, desain tank jauh lebih maju daripada saat Perang Dunia I, dan kemajuan-kemajuan tersebut semakin berkembang sejalan dengan berlangsungnya perang dalam hal peningkatan kecepatan, lapisan baja dan daya tembak.

Boeing B-17E dalam penerbangan. Sekutu telah kehilangan 160,000 penerbang dan 33,700 pesawat selama perang udara di atas Eropa.

Pada awal perang, kebanyakan komandan berpikir bahwa tank musuh harus dihadapi tank yang lebih kuat. Pemikiran ini terhambat oleh kinerja buruk meriam-meriam tank yang pada masa itu berkaliber kecil dan tak mampu menembus lapisan baja tank Jerman, dan doktrin Jerman yang menghindari pertempuran antar-tank. Ini dan penggunaan taktik senjata campuran Jerman, adalah beberapa dari unsur kunci taktik blitzkrieg mereka yang sangat berhasil di Polandia dan Prancis. Banyak alat untuk menghancurkan tank, termasuk artileri tak langsung, meriam anti-tank (baik yang ditarik maupun yang swagerak), ranjau, senjata anti-tank jarak pendek yang dioperasikan oleh infantri, dan tank lain digunakan. Bahkan dengan mekanisasi skala besar seperti itu, infantri tetap merupakan tulang punggung semua pasukan, dan selama perang, kebanyakan personel infantri diperlengkapi sama seperti pendahulu mereka di Perang Dunia I.

Penyebaran senapan mesin portabel, contoh paling kentara adalah MG42 buatan Jerman, dan berbagai macam pistol mesin yang cocok untuk pertempuran jarak dekat di perkotaan dan hutan. Senapan serbu, yang dikembangkan di akhir perang mengikutkan banyak fitur dari sebuah senapan dan sebuah pistol mesin, menjadi senjata infantri standar pasca-perang bagi sebagian besar angkatan bersenjata.

Negara-negara besar yang terlibat PD2 mencoba untuk memecahkan masalah kerumitan dan kerahasiaan yang dihasilkan ketika menggunakan buku kode kriptografi yang berukuran besar dengan menggunakan mesin sandi, yang paling terkenal adalah mesin Enigma yang berasal dari Jerman. SIGINT (signals intelligence atau intelijen sinyal) adalah melawan proses persandian, contohnya adalah keitka Sekutu memecahkan kode-kode angkatan laut Jepang dan mesin Ultra dari Inggris, yang berasal dari metodologi yang diberikan oleh Biro Sandi Polandia kepada Inggris, yang telah berusaha memecahkan sandi Enigma selama tujuh tahun sebelum perang. Aspek lain dari intelijen militer adalah penggunaan tipu daya, yang digunakan oleh Sekutu dengan hasil yang memuaskan seperti Operasi Mincemeat dan Bodyguard. Kemajuan-kemajuan teknologi dan rekayasa lainnya yang dicapai selama atau sebagai hasil perang termasuk diantaranya adalah komputer-komputer yang dapat diprogram pertama di dunia (Z3, Colossus, dan ENIAC), rudal dan roket modern, pengembangan senjata nuklir dalam Proyek Manhattan dan pengembangan pelabuhan buatan dan jalur pipa minyak di dasar Selat Inggris.

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s